Senin, 30 April 2012

Serpihan puisi Gie

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahir 
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda 
Dan yang tersial adalah berumur tua 

Berbahagialah mereka yang mati muda 
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada 
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

 - Soe Hok Gie -

A Little Piece Of Heaven - Avenged Sevenfold

Before the story begins, is it such a sin,
for me to take what's mine, until the end of time
We were more than friends, before the story ends,
And I will take what's mine, create what God would never design

Our love had been so strong for far too long,
I was weak with fear that
something would go wrong,
before the possibilities came true,
I took all possibility from you

Almost laughed myself to tears,
(ha hahahahaha)
conjuring her deepest fears
(come here you fucking bitch)

Must have stabbed her fifty fucking times,
I can't believe it,
Ripped her heart out right before her eyes,
Eyes over easy, eat it, eat it, eat it

She was never this good in bed even when she was sleeping
now she's just so perfect I've never been quite so fucking deep in
it goes on and on and on,
I can keep you looking young and preserved forever,
with a fountain to spray on your youth whenever

’Cause I really always knew that my little crime
would be cold that's why I got a heater for your thighs
and I know, I know it's not your time
but bye, bye
and a word to the wise when the fire dies
you think it's over but it's just begun
but baby don't cry

You had my heart, at least for the most part
’cause everybody's gotta die sometime,
We fell apart, let's make a new start
’cause everybody's gotta die sometime, yeah
but baby don't cry

Now possibilities I'd never considered,
are occurring the likes of which I'd never heard,
Now an angry soul comes back from beyond the grave,
to repossess a body with which I'd misbehaved

Smiling right from ear to ear
Almost laughed herself to tears

Must have stabbed him fifty fucking times
I can't believe it
Ripped his heart out right before his eyes
Eyes over easy, eat it, eat it, eat it

Now that it's done I realize the error of my ways
I must venture back to apologize from somewhere far beyond the grave

I gotta make up for what I've done
’Cause I was all up in a piece of heaven
while you burned in hell, no peace forever

’Cause I really always knew that my little crime
would be cold that's why I got a heater for your thighs
and I know, I know it's not your time
but bye, bye
and a word to the wise when the fire dies
you think it's over but it's just begun
but baby don't cry

You had my heart, at least for the most part
’Cause everybody's gotta die sometime,
We fell apart, let's make a new start
’Cause everybody's gotta die sometime, yeah
But baby don't cry

I will suffer for so long
(What will you do, not long enough)
To make it up to you
(I pray to God that you do)
I'll do whatever you want me to do
(Well then I’ll grant you one chance) *
And if it's not enough
(If it’s not enough, If it’s not enough)
If it's not enough
(Not enough)
Try again
(Try again)
And again
(And again)
Over and over again

We’re coming back, coming back
We’ll live forever, live forever
Let’s have wedding, have a wedding
Let’s start the killing, start the killing

Do you take this man in death for the rest of your unnatural life?
Yes, I do
Do you take this woman in death for the rest of your unnatural life?
I do
I now pronounce you

’Cause I really always knew that my little crime
would be cold that's why I got a heater for your thighs
and I know, I know it's not your time
but bye, bye
And a word to the wise when the fire dies
you think it's over but it's just begun
but baby don't cry

You had my heart, at least for the most part
’Cause everybody's gotta die sometime,
We fell apart, let's make a new start
’Cause everybody's gotta die sometime, yeah
But baby don't cry
----------------------------------------------------------------------------------

A question from me: What this song means?

Sabtu, 28 April 2012

Eksistensi Pasar Terapung

Sungai Musi menghubungkan kota Palembang bagian ulu dengan ilir. Sungai yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia ini memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan masyarakat Palembang tergambar dari sungai ini. Diatas sungai Musi terbentang Jembatan Ampera yang terkenal. Dipinggir sungai Musi juga terlihat Benteng Kuto Besak atau yang orang Palembang sebut BKB yang merupakan salah satu tempat bersejarah di kota Palembang.

Gambar 1.1. Jembatan Ampera

Berbicara soal sungai Musi, tak akan habis oleh kata. Bila turis lokal dan turis mancanegara bertandang ke Palembang untuk holiday, tidak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi sungai Musi. Dipinggiran sungai Musi bagian ulu terlihat bangunan gedung yang unik dan memiliki karakteristik, yaitu rumah rakit yang merupakan ciri khas daerah pinggiran sungai Musi.
Bertolak ke bagian ilir sungai Musi. Disini seperti yang kita ketahui adanya pasar 16 ilir. Karena perkembangan zaman, pasar 16 ilir tak lagi menjadi pasar tradisional, namun lebih kepada pasar grosir. Tidak jauh dari keberadaan pasar 16 ilir tepatnya dipinggiran sungai Musi bagian ilir, terdapat kurang lebih 9 perahu kecil. Ini bukan perahu untuk dijadikan transportasi air, walaupun memang ada perahu yang dikhususkan untuk transportasi air, namun ini beda. Apa yang membedakan? Yang menjadikannya beda adalah perahu ini merupakan perahu untuk berdagang makanan. Warung nasi tepatnya. Yang dijual ada banyak, misalnya masakan khas Sumatera Selatan yakni pindang pegagan. Masakan Padang yang terkenal dengan pedasnya pun ada. Tak hanya makanan, jika dilihat baik-baik dan teliti, perahu-perahu ini ada juga yang menyediakan warung kopi.

Gambar 1.2. Pasar Terapung

            Dengan perahu sebagai wadahnya, pasar terapung memiliki keunikan tersendiri. Menjajahkan warung nasi diatas sungai Musi dengan ombak yang tak terlalu tinggi, juga pasang surutnya air sungai menjadikan pasar terapung semakin terlihat berbeda.
            Berbicara tentang perbedaan, pasar terapung memang berbeda dengan warung nasi lain yang ada dimana-mana. Pasar terapung di Palembang adalah warung nasi modern namun tidak meninggalkan kesan tradisionalnya, karena pasar terapung ini seperti yang terlihat pada gambar 1.2., menggunakan perahu sebagai tempat berdagang makanan. Telah kita bahas diawal tadi, bahwa pasar terapung menyediakan makanan khas Sumatera Selatan yaitu pindang pegagan, masakan Padang pun ada yang menjual, dan juga warung kopi yang pastinya menyediakan kopi bagi pembelinya.
Teriknya matahari memuncak diubun-ubun kepala kami. Panasnya kota Palembang tak terelakkan lagi. Tepat pukul 13.00 sesudah melaksanakan kewajiban shalat dzuhur, perjalanan kami dimulai. Sengatan matahari, belum lagi bisingnya kota Palembang menemani perjalanan kami menuju pasar terapung. Senin, 20 Juni 2011 kami ukir perjalanan dengan senyuman bangga.
Memang sudah menjadi tugas kami para mahasiswa jurusan Jurnalistik IAIN Raden Fatah Palembang ini untuk meliput daerah pinggiran sungai Musi, tepatnya pasar terapung. Panasnya hari tidak membuat kami gentar untuk tetap melanjutkan perjalanan ke pinggiran sungai Musi. Wajar saja salah satu dari kami, Dita (19 thn) menyebut Palembang dengan sebutan Palembang Hell City. Kami tidak mengartikannya sebagai Kota Neraka, namun mengartikannya sebagai Palembang kota yang panas.
            Tak hentinya cawa kami ketika menaiki angkutan kota jurusan Ampera. Tawa sana sini tidak membuat pak sopir marah. Mobil merah yang nantinya akan melanjutkan perjalanan sampai ke Km. 5 ini akhirnya berhenti di bawah jembatan Ampera, sesuai dengan jurusannya, Km. 5 – Ampera.
            Langsung saja kami menuju ke pasar terapung yang memang sudah kami jadwalkan meliput kesana. Baru saja melangkahkan kaki melewati wisata kuliner yang ada di pinggiran Musi, kami berhadapan dengan 3-5 pelayan warung makan yang juga menjajahkan makanan. Tapi maaf mbak, maaf bu, maaf mas, maaf kak, bukan warung makan ini yang kami cari.
Terbebas dari warung makan yang terlihat lumayan modern itu, kami menuruni tangga untuk segera melanjutkan perjalanan mencari pasar terapung. Awalnya kami tidak tahu dimana pasar terapung di Palembang ini, tapi untungnya dua diantara kami telah terlebih dahulu hunting dimana pasar terapung tersebut.
Kami mencari tempat yang terlihat sedikit sepi. Dan mata kami tertuju pada Pasar Terapung Angin Berembus masakan Padang. Kami memilih Pasar Terapung Angin Berembus karena inilah satu-satunya warung nasi yang menyediakan masakan Padang. Terlihat yang lain banyak menyediakan pindang pegagan khas daerah Sumatera Selatan.
Selain karena belum banyaknya pengunjung yang datang dan warung ini merupakan satu-satunya warung yang menyediakan masakan Padang, yang membuat kami tertarik adalah nama dari warung nasi/ pasar terapung ini. Angin Berembus.



Gambar 1.3. Salah satu pasar terapung yang ada di pinggiran sungai Musi

            Jembatan kecil yang terbentang, digunakan pengunjung untuk menyeberang ke perahu. Sedikit menegangkan menyeberanginya. Badan harus seimbang, sebab pegangan yang bisa digunakan hanyalah sebatang kayu gelam di sisi kanan dan kirinya yang ditancapkan ke dasar sungai. Belum lagi jika angin sedang kencang, bisa saja badan yang tidak seimbang dapat terbang melayang dibuatnya.
            Angin Berembus menyapa kami dengan ramah. Pak Rajab (46 thn), pelayan yang berparas lumayan enak dipandang, menebar senyum sumringahnya ketika kami sampai ke muka perahu. Bau sedap masakan Padang memanjakan perut kami yang memang lapar untuk segera memesan makanan dan langsung santap siang.
Ayah dari Chelsea (1 thn) ini asli Padang. Ia sudah 7 tahun bekerja dengan Pak Novan (30 thn) di dunia kuliner. Namun bekerja di Pasar Terapung Angin Berembus yang dimiliki Pak Novan ini dilakoninya baru 3 bulan terakhir. Angin Berembus membuka tiga cabang, salah satunya di STM 1 Palembang. Penghasilannya yang tidak banyak yakni Rp 50.000,- per hari ini cukup untuk memenuhi kebutuhan satu anak dan satu istrinya.
            Dua porsi nasi ayam panggang kuah rendang, satu porsi nasi telur, empat gelas es teh manis, dan dua cangkir kopi. Itu daftar menu makan kami siang itu. Cukup dengan mengeluarkan uang Rp 41.000,- kami puas dengan Angin Berembus. Tak kalah dari makanan di restoran ternama ataupun rumah makan Padang di tempat ternama.
Berikut daftar menu Pasar Terapung Angin Berembus beserta harga.
No.
Nama Makanan
Harga/ porsi
1.
Nasi Ayam
Rp 10.000,-
2.
Nasi Rendang
Rp 9.000,-
3.
Nasi Ikan
Rp 7.000,-
4.
Nasi Telur
Rp 5.000,-
5.
Nasi Perkedel
Rp 5.000,-
6.
Nasi Tahu
Rp 4.000,-
7.
Es Teh Manis
Rp 3.000,-
8.
Es Jeruk
Rp 3.000,-
9.
Kopi
Rp 2.000,-
10.
Teh Hangat
Rp 2.000,-

            Penghasilan Angin Berembus per harinya mencapai minimal Rp 500.000,- jika pengunjung tidak sepi. Mengasyikkan bisa makan di pasar terapung ini. Belum lagi kita mendapatkan hiburan dengan bergoyangnya perahu akibat dihantam ombak kecil. Tawa ataupun jeritan bagi yang terkejut, menghiasi wajah setiap pengunjung yang sedang menikmati santapannya.
            Angin Berembus sebenarnya mempunyai 2 pelayan. Namun saat kami mendatangi Angin Berembus siang itu, pelayan satunya hanya berada di bagian dapur dan sedikit mengawasi kami.
            Pak Rajab menyatakan bahwa bekerja di pasar terapung ini santai, dalam artian tidak sesibuk bekerja di rumah makan modern yang besar. Tapi, beliau mengaku kurang memiliki waktu luang yang panjang untuk keluarga.  Bagaimana tidak? Pasar terapung sendiri buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore dan tak pernah sepi pengunjung.
            Beliau berharap kotoran disamping perahu dan didepan perahu di bersihkan. Memang terlihat agak menjijikkan melihatnya. Apalagi ketika air sedang surut seperti saat kami mendatangi Angin Berembus siang itu. Kotoran dimana-mana, sampah bertebaran sana-sini, belum juga terlihat orang buang air kecil sembarangan seperti tak tahu malu. Karena parkir perahu yang lumayan tinggi dan tiap tahunnya naik, dirasa kurang sepadan dengan kotornya daerah sekitaran perahu. Sepuluh ribu rupiah. Besarkah nominal tersebut? Tidak bagi mereka yang memiliki banyak uang. Ya, bagi mereka yang kurang mampu.
            Harapan tersebut bukan hanya Pak Rajab atau Angin Berembus sendiri yang menginginkan adanya perubahan. Pak Rajab menyatakan bahwa setiap perahu mempunyai harapan yang sama. Dimana selogan Palembang sebagai kota BARI? Bukankah B dari BARI itu adalah bersih?
            Meskipun sudah banyak yang meninggalkan pasar terapung sungai Musi, Angin Berembus dan beberapa perahu lain masih tetap bertengger di pinggir Musi. Warung makan lain sudah membuka warung yang lebih terlihat modern tak jauh dari pasar terapung ini. Keberadaannya akan tetap ada dan diperhitungkan apabila Angin Berembus dan perahu lain tetap tegar melawan kerasnya perkembangan zaman.

#DRS