Sabtu, 12 Maret 2016

Fenomena Gerhana Matahari Total 2016

Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) begitu menyedot perhatian seluruh masyarakat di Indonesia. Sebagian kota-kota besar di Indonesia yang kebagian GMT, antara lain Palembang, Palu, Palangkaraya, Bengkulu, Balikpapan, Tanjung Pandan, dan juga Ternate dikunjungi oleh turis lokal maupun internasional.  Wilayah yang dilewati fase gerhana matahari total memiliki waktu yang berbeda. Kita ambil contoh puncak gerhana di Palembang tidak sama waktunya dengan puncak gerhana yang terjadi di Ternate. Lalu ada kota lain di Indonesia akan mengalami Gerhana Matahari Sebagian (GMS), seperti Jakarta, Bali, dll.

Gerhana matahari ini bisa kita amati dengan menggunakan teleskop yang dipasang filter matahari. Perlu juga menggunakan kacamata khusus yang dilapisi filter matahari. Jika tidak punya kacamata matahari, kita bisa mengamatinya melalui kertas lubang jarum. Cara-cara tersebut merupakan cara aman untuk melihat GMT ataupun GMS secara langsung.

Palembang menjadi salah satu kota di mana GMT terjadi. Pemerintah menyiapkan Jembatan Ampera yang merupakan ikon kota Palembang yang menghubungkan kota Palembang bagian ilir dan ulu untuk dijadikan titik pertemuan semua kalangan. Pejabat pemerintahan, anggota dewan, orang-orang besar partai politik, guru, dosen, mahasiswa, buruh, petani, dll., berkumpul di jembatan Ampera untuk menyaksikan secara langsung peristiwa yang tidak akan terjadi tahun depan.

Beberapa hari sebelum terjadinya GMT di Palembang, pemerintah menyiapkan semua yang dibutuhkan. Dalam menyabut GMT tersebut, Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemristekdikti) bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa (LAPAN) dan juga Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) memberikan Workshop bertema Getting Closer to Solar Eclipse 2016 “Dibalik Gelapnya Gerhana Matahari di Sumatera Selatan” yang dilaksanakan di Graha Teknologi Jakabaring, Palembang pada Selasa, 08 Maret 2016 lalu.

Workshop ini memaparkan presentasi mengenai Gerhana Matahari Total, Konsep Lubang Jarum, dan pembuatan kacamata beserta teropong lubang jarum yang dihadiri oleh siswa sekolah, mahasiswa, dan juga dosen. Kemenristekdikti yang bekerja sama dengan KLJI memberikan edukasi kepada peserta workshop pembuatan dan penggunaan teropong dengan prinsip kerja lubang jarum. Teropong yang dibuat ini menjadi salah satu alat yang berfungsi melihat pergerakan terjadinya GMT tanpa merusak mata. Cahaya yang masuk melalui teropong diproyeksikan oleh lubang jarum.

Penggagas KLJI mengunjungi Palembang dan berkoordinasi dengan anggota KLJI regional Palembang untuk merencanakan workshop serta pemotretan ketika GMT terjadi. Workshop dilaksanakan dalam rangkaian Festival Gerhana Matahari Total yang diikuti oleh lebih dari 100 peserta. Seperti dalam acara workshop pada umumnya, panitia menyiapkan segala macam kebutuhan. Dalam hal ini, KLJI regional Palembang menyiapkan 100 buah lebih kaleng yang telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk dijadikan kamera lubang jarum. Tujuan pembuatan kamera lubang jarum dalam rangkaian festival ini adalah untuk memotret pergerakan GMT di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) pada Rabu, 9 Maret 2016.

Masih di pelataran BKB, KLJI yang berkolaborasi dengan KLJI regional Palembang membuat kamera oscura raksasa. Jika kalian melihat adanya kotak hitam besar seperti sebuah ruangan, itu merupakan kamera oscura yang digunakan untuk memotret pergerakan matahari saat GMT berlangsung. Jangan khawatir, jangan takut. Kotak raksasa ini bisa didekati karena di sana terdapat beberapa gambar fase terjadinya gerhana matahari. Ada juga gambar-gambar bertajuk gerhana tertempel di dinding luar kamera oscura raksasa ini. Selain untuk tempat foto-foto para pengunjung BKB, kamera oscura ini juga berfungsi untuk memberi informasi dan edukasi mengenai gerhana matahari.

Di kota Palembang, proses bertemunya matahari dan bulan sudah terlihat sekitar pukul 06.15. Perlahan namun pasti, bulan mulai menutupi matahari. Puncaknya pada pukul 07.22 terjadilah GMT yang berlangsung selama kurang dari 2 menit. Semua yang menyaksikan begitu antusias, termasuk kami ‘Ahlinya Kamar Gelap' yang telah bersiap di pelataran BKB sejak dini hari. Sayangnya, langit sedang tidak bersahabat. Gerhana tertutupi oleh asap perusahaan besar. Itulah kenapa pentingnya komunikasi antara pemerintah kota Palembang dan pihak perusahaan. Tidak terlihat sepenuhnya gerhana tersebut, namun langit tetap menghitam, memunculkan warna kelam malam, dan memaksa semua yang menyaksikan di sekitar BKB dan Ampera melafadzkan kalimat indah untuk Tuhan Sang Maha Pencipta. Allahuakbar. Subhanallah. Masya Allah. Subhanallah walhamdulillah. Kalimat-kalimat indah lainnya untuk Sang Pencipta juga diucapkan.

Dengan tidak menghilangkan rasa hormat dan kagum serta decakan kami, terima kasih untuk semua pihak yang telah membimbing, mengundang, dan mempertemukan kami. Untuk gerhana matahari total yang tidak mungkin kembali dalam waktu dekat, terima kasih telah memberikan kami pengetahuan mengenai sains dan ternyata mitos tidak harus diikuti. Lalu, kepada Tuhan Yang Maha Esa, terima kasih telah mengembalikan matahari seperti sedia kala. Tanpa adanya matahari, akan sulit bagi KLJI memotret karena kami adalah pemburu sinar matahari.

- Dita Rubian Sugiharti -