Terlahir dengan nama Dija Rizki Julistianto pada 27 Juli 1995, kemudian berganti nama menjadi Dijako Rizki Julistianto ketika duduk di bangku sekolah dasar. Dijako dalam bahasa suku Komering berarti ke sini. Jadi, dapat ditarik kesimpulan dengan mudah, bahwa arti nama Dijako Rizki Julistianto adalah "kesinikan (berikan -red) rezeki di bulan Juli". Itu doa dari kedua orang tuaku. Si bungsu ini kuakui berbeda dari saudaraku yang lebih tua dua tahun daripadanya. Ia memang jarang bergaul dengan sesamanya di sekitaran rumah. Pernah suatu ketika, Ibuku memarahinya. Ibu menyuruhnya keluar untuk bermain bersama teman-temannya. Namun ia menjawab tidak. Mending tidur, atau setidaknya 'memutihkan' badan di rumah, itu yang ada dibenaknya. Berbeda dari sebayanya yang biasa menghabiskan waktu bermain di luar rumah. Bercengkrama dengan sesama. Bermain gundu, setidaknya. Itu tak berlaku baginya. Adek (begitu ia dipanggil di rumah), sewaktu kecil memang sering bermain di luar rumah. Pernah juga ia mengayuh sepedanya dari rumah hingga Jembatan Ampera, kemudian kembali lagi ke rumah dikala subuh sesudah menunaikan ibadah shalat subuh. Berbicara mengenai shalat, ia termasuk yang paling rajin di rumah untuk kegiatan beribadah. Sendiri ke mesjid, tak mengapa.
Aku lebih menyukai si Adek berdiam diri di rumah, daripada harus bermain di luar rumah yang rentan akan hal negatif. Dengan begitu, aku mempunyai teman di rumah. Namun, kurasa ia juga merasa kesepian ketika aku yang mendapat giliran tak berada di rumah. Pendidikannya tak pernah jauh dari keluarga. Maksudnya begini, ia menamatkan sekolah dasar di SDN 28 Kampus Palembang (sekarang SDN 23 Palembang), yang hanya berserangan jalan dengan lorong rumah kami. Kemudian, lanjut bersekolah di SMPN 3 Kamboja Palembang. Di sini, ia satu sekolah dengan kakaknya (adikku juga, tentunya). Lanjut lagi di MAN 3 (Model) Pakjo Palembang yang aku sendiri alumni dari madrasah bertaraf Internasional ini. Di madrasah ini, ia hanya mengenyam dua tahun pendidikan. Ia masuk di kelas program Akselerasi (semester pendek). Sementara aku, menamatkan sekolah madrasahku di kelas progam Bilingual. Sedangkan saudaraku satunya lagi, hanya bisa masuk program reguler kelas Sosial.
Cerita kecilnya yang mengharukan terkuak dari bibir Ibu tadi malam. Hampir kuteteskan air mata didepannya, namun kutahan. Aku tak pernah mau meneteskan air mata di depan orang, termasuk juga Ibuku. Sungguh hinanya adikku di mata teman sebayanya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Pernah di ludahi oleh temannya, entah sengaja atau tidak. Jika aku mengetahui hal ini dulu, akan kudatangi seseorang yang telah meludahinya. Ia 'terludahi' tepat di atas kepalanya. Oh Tuhan, akupun takkan mau memegang kepalanya, apa lagi hingga meludahi. Pernah juga tangannya patah karena didorong oleh teman sekelasnya sewaktu sekolah dasar. Kejadiannya di lingkungan sekolah. Dengan begitu, orang tua korban dan pelaku dipanggil pihak sekolah. Namun apa yang didapat? Adikku mendapatkan perlakuan tak 'seimbang' dari pihak sekolah. Wali kelas menyatakan itu perbuatan ringan. Apa? Ringan? Tangan adikku patah, Bu! Ibuku yang menjadi wali hampir naik darah mendengar keputusan itu. Wali kelas adikku melihat si pelaku berperawakan seperti anak orang 'berduit'. Mungkin juga mulutnya sudah 'disempel' terlebih dahulu oleh orang tua pelaku. Hanya Tuhan yang tahu segala sesuatu yang tersembunyi.
Dari banyaknya kejadian menyedihkan yang didapat adik bungsuku ini, mungkin inilah yang menjadikan motivasi baginya. Orang yang dulu pernah meludahinya, kini entah berantah keberadaannya. Yang kudengar, sempat keluar masuk pesantren karena kenakalannya. Lalu, pelaku yang sempat membuat tangan si Adek patah, di keluarkan dari madrasah (satu sekolah dengan Adek ketika madrasah, tapi di kelas program reguler) karena jarang mengikuti pelajaran di kelas.
Kini, Adek mengenyam pendidikan Strata 1 di Institut Pertanian Bogor. Jauh dari rumah. Badannya yang gemuk, turun 5 Kg ketika ia menimbang di rumah. Hidup di asrama, dengan membeli sendiri makanan, tanpa disediakan pihak asrama. Pernah kutanyakan, kenapa berat tubuhnya menurun hingga 5 Kg. Kalau lapar, beli makan, ujarku. Ia menjawab, "mending uang yang di kasih itu di tabung, siapa tahu ada keperluan lain". Adikku tahu betul keuangan di rumah hingga sengaja 'berpuasa' agar uang yang didapatnya per bulan yang tak seberapa itu, bisa di tabung. Subhanallah. Adikku berbeda denganku, apa lagi dengan saudaraku yang satunya. Aku bersyukur memiliki adik sepertinya.
Kerinduanku akan dirinya, membuat air mata yang kutahan jatuh membasahi pipi. Aku tak memiliki teman di rumah. Sepi. Aku seolah anak tunggal, tak ada saudara. Kenyataannya, aku adalah anak sulung, satu-satunya anak perempuan orang tuaku.
Cepatlah pulang. Aku merindukan sosokmu. Sosok yang selalu memarahiku ketika aku lupa akan shalatku. Sosok yang selalu mengajakku jalan, seolah akulah pacarnya. Sosok yang selalu bercerita ke padaku terlebih dahulu, baru kemudian menceritakannya ke pada Ibu-Bapak. Sosok yang ketiduran di dalam kamarku. Sosok yang benar-benar kuanggap sebagai adik. Sosok yang selalu bertengkar dengan Ibu. Sosok yang senyumnya selalu tulus ke pada semua orang. Sosok yang selalu di bangga-banggakan mama Ana (iparnya Ibu). Sosok yang selalu di cari Aad (sepupu terkecil dari keluarga Ibu). Sosok yang selalu diangkat-angkat oleh Mbah. Sosok yang selalu mengerjakan sesuatu lewat kertas buram terlebih dahulu. Sosok yang kental akan ajaran agama Islam. Sosok yang selalu menunggangi Jupiter MX merah BG 2707 IR. Sosok yang selalu kujadikan 'Bank' ketika dompetku kosong sama sekali. Sosok yang selalu kujadikan tempat mencurahkan isi hati. Sosok yang selalu Bapak ajak untuk membuang sampah. Sosok yang selalu berada dalam kamar. Sosok yang selalu menjadi 'kucing', diam-diam menghabiskan makanan di rumah.
Tuhan, dengar aku. Aku merindukan adikku. Kutunggu kepulanganmu di Januari. Kita habiskan hari bersama.
![]() |
| Dija, Dita, Aad. |
With love,
#DRS

(y) keren kak :')
BalasHapusMakasih :) ini siapa, ya? :)
BalasHapusI just can say Woowww :')
BalasHapuscetar membahana badai :3
BalasHapuscetar membahana badai :3
BalasHapusmaaf baru dibaco :')
BalasHapusol gratis dgn wireless asrama, sambil nangis :)