Sabtu, 14 Desember 2013

dua, satu, lalu tiga perempat.

Belajar menurutku baiknya sedikit demi sedikit. Begitu pula ketika aku mengurangi sedikit demi sedikit takaran gula dalam seduhan kopiku. Kamis (12/12) di kantor, kucoba seduh kopi instan. Manisnya keterlaluan.

Aku memang tak berbakat dalam takaran. Tapi, belajar harus tetap berjalan. Untuk kopi kali ini, aku sendiri yang menyeduh. Biasanya, selama ini, aku hanya menenggak apa yang telah orang lain buat. Besoknya, kucoba menakar sendiri kopiku. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula, dengan air hangat yang tidak sampai memenuhi gelas, hanya 3/4 gelas. awalnya, kopinya belum sampai turun, masih mengambang-ngambang.

Kucoba seujung sendok, mencicipi kopi yang belum lagi turun. Uhuk. Aku terbatuk. Kopi yang belum larut mampir di kerongkongan. Kutunggu sampai semua turun. lalu, kuseruput sedikit demi sedikit. Ternyata pas! Aku hanya perlu menunggu semua kopi larut dan turun sampai berubah menjadi ampas.

Rian, kawanku. Dialah yang menugurku kalau ampas dari kopi seduhanku ini adalah setengah dari air hangat yang kutuang ke gelas kecil itu. Itu yang aku cari. Bagiku, begitulah baiknya menenggak kopi. Kental, ampasnya setengah atau bahkan 3/4 dari air hangat yang dituang.

Entah apakah besok-besok aku masih bisa menyeduh seperti ini atau tidak. Namun yang jelas, keyakinanku harus tetap pada posisi bahwa belajar itu sedikit demi sedikit. Mengurangi takaran gula pada kopi juga harusnya begitu, sedikit demi sedikit. Karena pernah aku membaca kalau kopi itu baiknya dinikmati tanpa mencampurkan gula. Maka dari itu, mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi takaran gula ada baiknya.

Dan.. Aku lebih menyukai hirupan kopi ketika aku mampir ke angkringan bersama kawan. Dan.. Aku benci kopi hotel!

-drs-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar