Rabu, 14 November 2018

Sejak 2014 Hingga Sekarang

Oh, hai!
Its really long time no see you, fellas. I just remember the first time I have this blog. Hampir tiap hari punya bahan buat nulis. Itu karena dulunya masih free, belum banyak yang dipikirkan, kecuali bagaimana besok kuliah dan apakah tugas-menugas telah selesai dikerjakan dan siap dikumpul keesokan harinya. Iya, dulu seperti itu. Sekarang situasi dan kondisinya agak berbeda dari kebiasaan dulu.

Flash back sedikit kegiatan setelah tamat kuliah. Baique. Aku adalah mahasiswa tingkat akhir pada tahun 2014 lalu. Sidang skripsi aku jalani pada bulan Oktober dan wisuda awal November 2014. Tergolong nekat dan ngebut. Benar-benar diuji kelayakan sarjananya dari sini. Skripsi yang harusnya selesai pertengahan tahun 2014, namun pada kenyataannya selesai akhir 2014. Hal demikian bisa saja dan sangat maklum terjadi pada jagat perskripsian mahasiswa tingkat akhir. Stuck. I cant breath. Rasanya begitu ketika kalimat yang seharusnya mudah dituangkan dan diketik di keyboard laptop Sony Vaio kesayanganku, menjadi blank. Berbulan-bulan waktu kuhabiskan untuk memulai usaha kulinerku. Skripsi terbengkalai. Aku juga punya kebiasaan jika pikiranku sedang mengalami kejadian seperti saat itu, tingkat keinginanku untuk makan menjadi lebih tinggi. Maka dari itu, aku memulai untuk menjajal usaha kuliner. Alhamdulillah, diakui sama pelangganku. Walau pada saat itu tidak banyak.

Menyelesaikan skripsi dalam waktu singkat sangat membutuhkan ekstra tenaga. Setiap hari aku mencoba menghindari berlama-lama di rumah demi tidak ditanya, “apa kabar skripsi?” Secara pada saat itu juga Ibuk sedang mengerjakan tesis. Perpustakaan adalah tempat ternyaman yang aku kunjungi tiap kali aku ke kampus. Ruwaida dan Saddam adalah teman seperjuanganku saat itu. Bukan berarti yang lain tidak. Ini dikarenakan ketika menjalani ‘wajib skripsi’ saat itu, semua berpencar. Mencari topik masing-masing dan mondar-mandir media massa-dosen pembimbing-kampus, dst. Kebetulan atau tidak, skripsi yang kami garap hampir memiliki kesamaan tema. Itulah yang membuat ‘pertemanan’ kami sesetia itu. Bimbingan skripsi kami lakukan bersama. Pun begitu juga dengan ujian kompre dan sidang skripsi. Kami tidak terpisah kala itu. Hingga tiba saatnya wisuda, aku menelan sedikit kekecewaan karena aku yang seharusnya Cumlaude juga memiliki kesempatan yang sama dengan para Cumlauder lainnya. Unik, dikelasku ada 6 orang yang Cumlaude termasuk aku. Urutannya adalah Shindi, Ruwaida, Aku, Saddam, Deka, dan Veni. Shindi karena memiliki IPK tertinggi sefakultas Dakwah dan Komunikasi, ia berhak mewakili fakultas kami untuk mendapat penghargaan saat wisuda. Lalu, Ruwaida ketika yudisium dinobatkan sebagai terbaik jurusan. Ini dikarenakan tertinggi pertama adalah Shindi telah lebih dulu diminta mewakili fakultas. Bukan apa-apa sebenarnya. Itulah kenapa kecewaku hanya sedikit. Karena memang Cumlauder dari jurusan kami ada banyak. Lalu, aku ada di urutan ketiga. Yah, lagi-lagi Cumlaude tidak menentukan apa-apa untuk ke depannya. Karena sekarang aku telah menyandang gelar Sarjana Sosial selama kurang lebih 4 tahun.

Setelah wisuda apakah aku langsung bekerja? Tentu tidak. Kenapa? Padahal nilainya bagus. Ijazahku belum kelar oi! Hiks 😭
Ya, Januari 2015 aku baru mendapatkan ijazahku. Dalam kurun waktu tersebut, kegiatan keseharianku kuhabiskan untuk melanjutkan usaha kulinerku. Hobi masak dan tidak takut rugi adalah cara nekatku untuk melanjutkannya. Sedikit mencoba kemampuan dan berharganya transkrip nilai beserta ijazahku, aku menjajal Pegadaian. Waktu itu dibuka di Jambi dan Lampung. Otomatis aku ambil tempat di Lampung. Tidak perlu ditanya lagi kenapa, karena Ibuk memiliki keluarga besar di sana. Dulu juga sempat sekolah di Lampung. Alhamdulillah, aku sempat menjajal kemampuanku untuk test di sana walaupun gagal. Di kereta pulang ke Palembang, sempat kuteteskan air mata. Untuk ke sekian kalinya aku mengecewakan orang tuaku. Dalam hati aku berdoa, semoga segala urusanku dilancarkan untuk membahagiakan orang tua. Doaku terkabul. Alhamdulillah. Dua hari setelah pulang dari Lampung dan melenyapkan rasa kecewa, aku pun dapat panggilan interview di salah satu bank berbasis Syariah.

Singkat cerita, alhamdulillah aku bekerja di sana selama 3 tahun. Sebentar memang. Tidakkan terasa lama jika dijalani dengan sepenuh hati. Akan tetapi, bulan-bulan terakhir aku bekerja di sana, hatiku merasa sangat berat. Menjalani hari-hari di wisma dan selalu membaca mengenai RIBA membuatku merasa sangat ingin segera menyelesaikan urusanku di lembaga tersebut. Berbagai macam tawaran naik jabatan aku coba. Terakhir, pada hari setelah test kenaikan tersebut aku mencoba untuk secara iseng main ke kampus tempatku kuliah dulu. Bertemu dengan dosen favoritku. Apa yang diucapkan beliau pada saat itu, membuka pikiranku.
“Apa yang kamu dapet kerja di bank?”
“Apa kamu nggak bosen?”
“Kerja di bank tuh gitu-gitu aja.”
“Jam kerja sampe jam 5, tapi kamu selesai meeting sore jam 8 malem bahkan lebih.”
“Hari kerja cuma sampe Jumat loh, Dita.”
“Coba lanjut S2, nanti setelah selesai langsung daftar jadi dosen di sini.”
Perkataan dosen favoritku ini makin membulatkan keputusanku untuk resign. Tiga tahun aku berada di lembaga ini tidak menghasilkan apa-apa. Harusnya tabunganku sudah menggunung. Apalagi di lembaga itu, gradeku terbilang tinggi. Namun, sekali lagi aku tulis di sini apa alasanku resign, “aku takut dosa. Aku punya dosa sudah banyak. Menggunung. Aku tidak tega menambah dosaku lebih dari ini. Aku takut Allah marah. Aku takut. Aku takut murkanya Allah.” Itulah kalimat yang aku jawab ketika banyak yang bertanya alasanku resign.

Lalu, sekarang apa yang aku kerjakan? Apa yang aku rencanakan? Aku sedang mempersiapkan pernikahanku. Insha Allah kalau memang tidak berhalangan, akan dilakukan secepatnya. Aku sangat bersyukur. Berterima kasih kepada Allah. Kenapa Allah sebaik ini kepadaku? Lepas dari lembaga RIBA, aku ditemukan dengan sosok laki-laki yang paham akan itu. Alhamdulillah. Allah Maha Baik. Mungkin ini jalannya. Aku ikhlas melepas jabatanku walaupun telah berstatus sebagai pegawai tetap dengan grade tinggi. Keikhlasanku membuahkan hasil. Alhamdulillah Allah Maha Baik. Aku lanjutkan usaha kulinerku. Adikku buka usaha kedai makanan dan kopi. Ia memintaku mengisi makanan di sana. Alhamdulillah Allah kasih jalan.

Perbanyaklah syukur kita kepada-Nya. Tingkatkan ibadah kita kepada-Nya. Jangan lupa untuk selalu berpikir positif karena itu sangat berpengaruh pada kehidupan kita. Last, jangan lupa sedekah. Love. ❤️💞

Tidak ada komentar:

Posting Komentar