Belajar menurutku baiknya sedikit demi sedikit. Begitu pula ketika aku mengurangi sedikit demi sedikit takaran gula dalam seduhan kopiku. Kamis (12/12) di kantor, kucoba seduh kopi instan. Manisnya keterlaluan.
Aku memang tak berbakat dalam takaran. Tapi, belajar harus tetap berjalan. Untuk kopi kali ini, aku sendiri yang menyeduh. Biasanya, selama ini, aku hanya menenggak apa yang telah orang lain buat. Besoknya, kucoba menakar sendiri kopiku. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula, dengan air hangat yang tidak sampai memenuhi gelas, hanya 3/4 gelas. awalnya, kopinya belum sampai turun, masih mengambang-ngambang.
Kucoba seujung sendok, mencicipi kopi yang belum lagi turun. Uhuk. Aku terbatuk. Kopi yang belum larut mampir di kerongkongan. Kutunggu sampai semua turun. lalu, kuseruput sedikit demi sedikit. Ternyata pas! Aku hanya perlu menunggu semua kopi larut dan turun sampai berubah menjadi ampas.
Rian, kawanku. Dialah yang menugurku kalau ampas dari kopi seduhanku ini adalah setengah dari air hangat yang kutuang ke gelas kecil itu. Itu yang aku cari. Bagiku, begitulah baiknya menenggak kopi. Kental, ampasnya setengah atau bahkan 3/4 dari air hangat yang dituang.
Entah apakah besok-besok aku masih bisa menyeduh seperti ini atau tidak. Namun yang jelas, keyakinanku harus tetap pada posisi bahwa belajar itu sedikit demi sedikit. Mengurangi takaran gula pada kopi juga harusnya begitu, sedikit demi sedikit. Karena pernah aku membaca kalau kopi itu baiknya dinikmati tanpa mencampurkan gula. Maka dari itu, mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi takaran gula ada baiknya.
Dan.. Aku lebih menyukai hirupan kopi ketika aku mampir ke angkringan bersama kawan. Dan.. Aku benci kopi hotel!
-drs-
Jangan hina dirimu sendiri dengan cara COPY PASTE tulisan seseorang, tanpa mencantumkan nama penulis. Angkat gelasmu. Kita bersulang!
Sabtu, 14 Desember 2013
Rabu, 17 Juli 2013
“Tak begitu menyukai janji-janji. Atas apa yg aku lakukan saat ini adalah apa yg benar-benar aku ingini. Menjaga janji itu sulit. Tak semudah saat kau dengan mudah mengumbarnya.”
— @diahdichil from http://instagram.com/p/bk4GWtwAVV/
- Dipost di tumblr Jul. 10, 2013 @ 17:00
Minggu, 19 Mei 2013
Buku Kuliah
Ada apa dengan buku di atas? Padahal hanya buku untuk cacatan kuliahku. Kalian tahu? Ada yang menarik dari buku ini kalau dibuka dari belakang. Banyak tulisan-tulisan yang kurasa tidak penting. Tapi itulah gunanya bagian belakang buku, yaitu tempat coret mencoret segala kebosananku terhadap pelajaran yang kutumpahkan dalam bentuk tulisan. Belakangan jarang kubuka, karena beberapa dosen sepertinya tidak mengharuskan untuk mencatat. Ada dosen yang mewajibkan mencatat pun malah setitik tak kutulis lantaran bukan itu yang kuinginkan dalam kuliah; catat sampai habis.
Malam ini, aku tertarik dengan buku ini. Ke mana pun aku pergi, penting atau tidaknya tempat yang aku tuju, asal aku membawa tas, buku ini selalu kubawa. Kembali kubuka lembaran belakang buku ini. Ada beberapa tulisan yang tidak tercampur coretan lain yang tidak penting. Mungkin mewakili perasaanku. Mungkin juga dari beberapa tweet dari beberapa akun yang kutulis di situ.
Kita pernah bersama dalam satu waktu; satu ruang. Rinduku selalu indah beradu dengan air mata. Kesesakan. Rinduku selalu indah beradu dengan kenangan harum tubuhmu. Bagai candu; heroin yang masuk ke dalam tubuh. Ketagihan.
Mengapa kamu? Karena pelukmu, kecupmu, aroma tubuhmu, gesekan kulitmu begitu candu. Aku membeku.
Di sini. Di tempat ini. Sunyi senyap. Remang. Tiada suara. Tiada dialog. Hanya instrumen musik. Tanpa gerak untuk saling tatap. Indah yang tak terasa indah.
Kurang lebih itulah tulisannya. Masih ada lagi. Tapi cukup sampai di sini saja. Karena ini adalah tulisan kegalauanku, cukuplah aku yang merasakan.
#DRS
Hasil Jepretan Lensa Fish Eye
Kalo tadi nge-post tentang lensa fish eye buat HP, ini sekarang aku mau post foto hasil jepretan pake lensa fish eye juga, tapi buat kamera DSLR, ya..
NB: awan, warna, dsb, adalah efek photoshop
Okay, see you~
Nih foto yang ngambilnya pak Bastian, guru komputer MAN 3 Palembang pas aku sama temen-temen KLJ Palembang ngadain sosialisasi tentang kamera lobang jarum untuk anak Klub Fotografi MAN 3 Palembang.
Sekarang keliatan kan beda banget hasilnya. Jelaslah! Intinya, bagus atau tidak hasil foto menggunakan lensa fish eye, tergantung HP atau kamera apa yang kita pake.
NB: awan, warna, dsb, adalah efek photoshop
Okay, see you~
Mainan Baru
Sebenernya udah lama pingin beli. Tapi berhubung duitnya ga punya, jadi urung deh. Harganya Rp 350.000,- denger-denger hehe :3
Lagi iseng ceritanya nge-stalk foto temen SMP dulu di Instagram. Nah ngeliat fotonya dia pake lensa fish eye. Terus nanya-nanya ke orangnya dan akhirnya temen ngerekomendasiin salah satu olshop yang ada si Instagram. Harganya pun jauh lebih murah dibanding harga diatas. Proses proses dan proses akhirnya nyampe di tangan juga lensanya :D
Nih lensa fish eye aku pake di HP Symbian Nokia E63
Ada tiga warna di olshop tempat aku beli nih lensa. Merah, hitam, dan putih. Kenapa pilih merah? Yah jelaslah ya.. Biar cocok sama si HP yang warna merah ini :3 Mau tau harganya? Jangan kaget yah hehe cuma Rp 130.000,- (belum ongkos kirim) buat 180˚ dan Rp 140.000,- buat 190˚. Malah ga
usah pake ongkos kirim kalo ambilnya di rumah orang yang jual ini. Kebetulan
juga yang jual orang Palembang.
Hasil coba-coba jepret:
Hehe maaf ya, Ru. :p
Ini pas acara 2nd open mic Stand Up Comedy IAIN Raden Fatah
Tas kesayangan :3
Hm pas diitung-itung lagi, kenapa malah banyak warna merah di dalem kamar ini -,- mulai dari si VAIO, si Red Symbian E63, tas kesayangan Converse ALL STAR, dan sekarang nih mainan baru hehe :3
#DRS
Langganan:
Postingan (Atom)





