Rabu, 23 April 2014

Rumah itu......

Pingin tulis sesuatu yang menyangkut KKN. Tapi, kalo inget KKN, ingetnya ke perempuan itu sih. Haduh, sebenernya nggak ada masalah sama tuh perempuan. Serius deh. Aku cuma enek aja. Penjilat kalo aku bisa bilang sih. Sumpah! Aku belum pernah seenek ini sama orang. Dia yang pertama. Pemecah rekorku untuk tidak senang dengan orang. Sampai... untuk menoleh ke arahnya pun aku enggan.

Sudah.. Kita cerita tentang suasana rumah di sana saja, gimana? Oke. Begini, ini sudah pernah kuposting di akun Instagramku. Mungkin ini aku bakal co-pas saja kali, ya..


http://instagram.com/p/mXkhRhBPAH/

Berawal dari tarikan dan hembusan nafas. Kemudian, memulai dari 0. Mengenal orang baru, lingkungan baru, dan keluarga baru. Dua puluh empat jam dalam satu hari, sebuah tatap muka yang melebihi pertemuan antara aku-kita-ibu-bapak sendiri. Melebihi keluarga. Berawal dari tidak kenal satu sama lain, lalu saling rangkul. Berharap jadi saudara. Kita, berdelapan. Menyatukan individu yang berbeda baik dari pemikiran, cara, kelakuan, bahkan hingga latar belakang keluarga dan pendidikan. Rumah ini, kediaman pak Jhoni AL. Bersama dengan istri dan anak pertamanya menyambut kami dengan hangat di hari itu, Selasa, 11 Februari 2014. KKN yang mempertemukan kami dengan keluarga ini. Tuhan, terima kasih. Pun rumah ini menjadi saksi pertengkaran kecil yang terjadi, teriakan-teriakan aneh, juga kentutku yang membabi-buta. Rinduku takkan terbayar tanpa kembali lagi ke rumah ini. Tempat penampung yang tidak seperti tempat penampungan. Dusun II Desa Supat Timur Kec. Babat Supat Kab. Musi Banyuasin Sumatera Selatan, kediaman bapak Jhoni AL, mantan kepala desa.

Aku rasa sih segitu dulu hehe bingung mau cerita apa lagi. Karena terlalu banyak cerita yang terekam dalam memori otakku. Nanti aku cari-cari kalimat bagus untuk menceritakan pengalaman selama KKN. Termasuk juga nanti beberapa pria pribumi yang ada di sana. Tapi nanti, tunggu aku selesai mengobrak-abrik KBBI :)

#DRS

Sabtu, 14 Desember 2013

dua, satu, lalu tiga perempat.

Belajar menurutku baiknya sedikit demi sedikit. Begitu pula ketika aku mengurangi sedikit demi sedikit takaran gula dalam seduhan kopiku. Kamis (12/12) di kantor, kucoba seduh kopi instan. Manisnya keterlaluan.

Aku memang tak berbakat dalam takaran. Tapi, belajar harus tetap berjalan. Untuk kopi kali ini, aku sendiri yang menyeduh. Biasanya, selama ini, aku hanya menenggak apa yang telah orang lain buat. Besoknya, kucoba menakar sendiri kopiku. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula, dengan air hangat yang tidak sampai memenuhi gelas, hanya 3/4 gelas. awalnya, kopinya belum sampai turun, masih mengambang-ngambang.

Kucoba seujung sendok, mencicipi kopi yang belum lagi turun. Uhuk. Aku terbatuk. Kopi yang belum larut mampir di kerongkongan. Kutunggu sampai semua turun. lalu, kuseruput sedikit demi sedikit. Ternyata pas! Aku hanya perlu menunggu semua kopi larut dan turun sampai berubah menjadi ampas.

Rian, kawanku. Dialah yang menugurku kalau ampas dari kopi seduhanku ini adalah setengah dari air hangat yang kutuang ke gelas kecil itu. Itu yang aku cari. Bagiku, begitulah baiknya menenggak kopi. Kental, ampasnya setengah atau bahkan 3/4 dari air hangat yang dituang.

Entah apakah besok-besok aku masih bisa menyeduh seperti ini atau tidak. Namun yang jelas, keyakinanku harus tetap pada posisi bahwa belajar itu sedikit demi sedikit. Mengurangi takaran gula pada kopi juga harusnya begitu, sedikit demi sedikit. Karena pernah aku membaca kalau kopi itu baiknya dinikmati tanpa mencampurkan gula. Maka dari itu, mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi takaran gula ada baiknya.

Dan.. Aku lebih menyukai hirupan kopi ketika aku mampir ke angkringan bersama kawan. Dan.. Aku benci kopi hotel!

-drs-

Rabu, 17 Juli 2013

“Tak begitu menyukai janji-janji. Atas apa yg aku lakukan saat ini adalah apa yg benar-benar aku ingini. Menjaga janji itu sulit. Tak semudah saat kau dengan mudah mengumbarnya.”

— @diahdichil from http://instagram.com/p/bk4GWtwAVV/

Minggu, 19 Mei 2013

Buku Kuliah


Ada apa dengan buku di atas? Padahal hanya buku untuk cacatan kuliahku. Kalian tahu? Ada yang menarik dari buku ini kalau dibuka dari belakang. Banyak tulisan-tulisan yang kurasa tidak penting. Tapi itulah gunanya bagian belakang buku, yaitu tempat coret mencoret segala kebosananku terhadap pelajaran yang kutumpahkan dalam bentuk tulisan. Belakangan jarang kubuka, karena beberapa dosen sepertinya tidak mengharuskan untuk mencatat. Ada dosen yang mewajibkan mencatat pun malah setitik tak kutulis lantaran bukan itu yang kuinginkan dalam kuliah; catat sampai habis.

Malam ini, aku tertarik dengan buku ini. Ke mana pun aku pergi, penting atau tidaknya tempat yang aku tuju, asal aku membawa tas, buku ini selalu kubawa. Kembali kubuka lembaran belakang buku ini. Ada beberapa tulisan yang tidak tercampur coretan lain yang tidak penting. Mungkin mewakili perasaanku. Mungkin juga dari beberapa tweet dari beberapa akun yang kutulis di situ.

Kita pernah bersama dalam satu waktu; satu ruang. Rinduku selalu indah beradu dengan air mata. Kesesakan. Rinduku selalu indah beradu dengan kenangan harum tubuhmu. Bagai candu; heroin yang masuk ke dalam tubuh. Ketagihan.

Mengapa kamu? Karena pelukmu, kecupmu, aroma tubuhmu, gesekan kulitmu begitu candu. Aku membeku. 

Di sini. Di tempat ini. Sunyi senyap. Remang. Tiada suara. Tiada dialog. Hanya instrumen musik. Tanpa gerak untuk saling tatap. Indah yang tak terasa indah.

Kurang lebih itulah tulisannya. Masih ada lagi. Tapi cukup sampai di sini saja. Karena ini adalah tulisan kegalauanku, cukuplah aku yang merasakan.


#DRS
 
 

Hasil Jepretan Lensa Fish Eye

Kalo tadi nge-post tentang lensa fish eye buat HP, ini sekarang aku mau post foto hasil jepretan pake lensa fish eye juga, tapi buat kamera DSLR, ya..





Nih foto yang ngambilnya pak Bastian, guru komputer MAN 3 Palembang pas aku sama temen-temen KLJ Palembang ngadain sosialisasi tentang kamera lobang jarum untuk anak Klub Fotografi MAN 3 Palembang.

Sekarang keliatan kan beda banget hasilnya. Jelaslah! Intinya, bagus atau tidak hasil foto menggunakan lensa fish eye, tergantung HP atau kamera apa yang kita pake.

NB: awan, warna, dsb, adalah efek photoshop
Okay, see you~