Kamis, 14 Juni 2012

Semuanya Tegang

Sebenarnya tulisan ini sudah sekitar satu tahun yang lalu kutulis. Tapi baru bisa aku post ke blog ini karena blogku sebelumnya ntah kemana keberadaannya sekarang dan ini merupakan tugas perkuliahanku di jurusan Jurnalistik.

***
 
Burung berkicau, kucing mengeong, ayam berkokok dan sejuknya udara pagi yang hampir setiap hari tidak pernah absen. Hari senin memang selalu menjadi hari untuk bangkit dari bermalas-malasan. Tak dapat dipungkiri karena senin merupakan hari dimana hari sebelumnya adalah hari libur. Namun senin kali ini berbeda, senin ini merupakan hari yang bisa dikatakan bersejarah untuk anak sekolah tingkat SMP. Ya, jadwal hari ini adalah Ujian Nasional (UN) bagi para murid SMP/ MTs se-Indonesia.

Bila pada hari senin sebelumnya adalah hari pertama anak sekolah tingkat SMA yang melaksanakan UN, maka hari ini, 25 April 2011, giliran anak SMP/ MTs yang mau tak mau harus melaksanakannya. Sudah menjadi tradisi bahwasanya UN merupakan sesuatu yang menakutkan nan menyeramkan bagi mereka yang berstatus pelajar SMP/ MTs. Berita tentang bocornya soal UN juga telah terdengar dari jauh-jauh hari dan para Kepala Sekolah serta guru-guru pun giat memberikan bimbingan agar menghiraukan berita tentang bocornya soal ujian dan memberikan motivasi untuk tetap belajar tekun agar menghasilkan nilai yang baik.

Tak hanya murid yang tegang, tetapi juga guru dari berbagai sekolah ikut merasakannya. Robi’ah, guru SMP N 7 Plaju, mengatakan ia mendapatkan giliran mengawas di SMP PGRI 2 yang tak berjauhan dengan tempat dimana ia mengajar. Kediamannya yang berada di daerah Kampus, sangat memungkinkan untuk terlambat datang ke sekolah. Akses transportasi yang lumayan jauh untuk di tempuh ialah alasan pertama yang memungkinnya terlambat. Namun hal ini telah di siasatinya dengan tidur malam lebih awal agar keesokan harinya tidak perlu tergopoh-gopoh berangkat dari rumah.

Selain guru dan para murid yang melaksanakan ujian, keluarga pun ikut merasakan ketegangan baik itu ibu, ayah, kakak, adik, nenek, kakek, bibi, juga paman. Bagaimana tidak? Pendidikan selama tiga tahun akan di akhiri dengan sesuatu yang bernama Ujian Nasional.
 
 
#DRS 

Prioritas Utama

Aku terlahir di dunia bukan tanpa perantara, bukan karena kutukan, bukan tidak di inginkan. Aku adalah pemenang dari berjuta-juta sperma yang masuk ke dalam rahim seorang janda beranak satu. Setelah aku, kemudian kedua adik laki-lakiku.

Ibu, perantara yang tepat dari sang penguasa langit dan bumi. Aku terlahir bukan karena kutukan yang tiba-tiba mampir ke rahim ibuku, melainkan dari benih cinta seorang bujang kepada janda satu anak. Adanya cinta yang membuat aku ada sekarang dan mudah-mudahan esok pun aku masih ada dan bernyawa. Aku hidup di dunia menginjak usia 20 tahun, itu menunjukkan kalau aku di inginkan di dunia ini.

Kecintaan ibu terhadap anak perempuan satu-satunya ini membuat aku merasa egois. Aku seolah tak ingin di kekang. Aku ingin bebas, sebebas burung merpati yang terbang lepas dari sarangnya. Aku hanya ingin itu. Ibu, beri aku kebebasan. Namun jangan samakan aku seperti binatang yang tak punya hati nurani dan pikiran yang jernih.

Bahkan untuk memberiku keleluasaan memilih jalanku pun kau ragu. Apa salahnya memberikan kepercayaan kepadaku? Kau prioritas utamaku dalam segala hal. Aku selalu berbagi cerita apa yang telah terjadi kemarin, hari ini, dan anganku untuk masa depan.

Jurnalistik menjadi pilihanku di perguruan tinggi, kau sangat menentang keinginanku sebagai seorang jurnalis. Alasannya? Aku wanita! Hanya itu. Wanita sebagai seorang jurnalis? Kenapa tidak? Aku punya hobi yang sangat kau dukung. Ya, photography. Kau tahu senangnya aku memotret dirimu, tapi kau tak memberi ruang untukku menjadi seorang jurnalis.

Cita-cita awalku bukan sebagai jurnalis, melainkan seorang arsitek. Tak pernah ada yang tahu sebelum aku menceritakan ini kepada adik bungsuku. Aku juga mengira-ngira ibu takkan pernah tahu keinginanku menjadi seorang arsitek.

Hubunganku dengan ibu sama halnya seperti hubungan antar teman. Kadang terlihat baik-baik saja, kadang juga terlihat sangat tidak harmonis. Itu semua karena kami adalah wanita dan telah kutulis di atas bahwa wanita memiliki sifat egois. Dari setiap keegoisan, aku selalu belajar bagaimana cara agar bisa mengalah.

Akhir-akhir ini aku banyak bertanya tentang makna kelahiran, perubahan, dan kematian. Aku pun banyak bertanya tentang makna Tuhan, cinta, dan kemerdekaan. Tak mengapa. Menurut penulis novel favoritku, Dee, ia mengungkapkan bahwa hidup adalah proses bertanya. Jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita.


#DRS

Wisata Air Terjun Lubuk Linggau

Hawa sejuk menghampiri kota Lubuk Linggau di siang hari. Seharusnya siang itu jadwal saya untuk mengelilingi Linggau. Namun sepertinya tidak ada siapapun yang bisa mengajak saya keluar rumah. Tapi tunggu dulu. Saya mendengar suara motor datang. Dan ya! Akhirnya sepupu pulang dari tugasnya sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar di Linggau. Sebentar saja ia menghabiskan makan siangnya, berganti baju, dan kemudian sedikit berdandan, lalu mengajak saya keliling Linggau.
Semestinya, jadwal hari itu adalah mengunjungi ataupun sekedar melihat bukit Sulap. Tetapi, setelah saya mengatur kembali jadwal hari itu, saya urungkan niat mengunjungi bukit Sulap dan memilih untuk melihatnya dari kejauhan, dari pinggir jalan raya.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat wisata selanjutnya, sepupu mengajak saya mampir terlebih dahulu ke kedai langganannya. Kedai ini menjual makanan khas Palembang. Apalagi kalau bukan pempek dan sejenisnya, seperti model, tekwan, dan teman-temannya. Sembari menyantap makanan, ia menceritakan bahwa di Linggau ada dua air terjun tempat wisata. Keduanya menarik dan wajib dikunjungi bila sedang berlibur ke Linggau.
Berulang kali saya melihat jam, memperingati diri sendiri jangan sampai kebeblasan sampai lupa waktu. Karena malamnya saya harus naik kereta pulang ke Palembang, maka perjalanan dipercepat. Untungnya kami mengendarai motor dan bisa leluasa memandangi kota Linggau yang berhawa dingin ketika itu. Saya tidak berniat menanyakan apakah Linggau memang berhawa sejuk atau tidak, tapi yang jelas siang itu hawanya sejuk.
Tidak lama dari kedai itu, kami sampai di tempat wisata air terjun yang pertama. Saya lupa namanya, karena memang tak terpampang nama tempat tersebut. Saya pikir untuk ke air terjunnya kami takkan berjalan jauh, tapi saya salah. Sebelum bertatapan langsung dengan air terjun tersebut, kami harus menuruni beratus-ratus anak tangga yang licin dan curam. Sangat mudah menuruninya apabila terdapat pegangan di sisi kanan atau kiri anak tangga tersebut. Namun ini, sama sekali tidak ada pegangan. Jadi kami harus berpegangan dengan dinding batu besar yang ada di sisi sebelah kanan anak tangga ketika kami turun.
Rasa lelah ketika menuruni tangga licin nan curam itu terbayarkan dengan bertatapan langsung dan melihat keindahan air terjun ketika telah berada di bawah. Sungguh mempesona. Panorama alam yang ada pun menambah decak kagum. Ingin sekali memotret diri sendiri dan air terjun tersebut. Tapi apa daya, sepupu saya tidak bisa menggunakan kamera DSLR yang saya bawa. Derasnya air terjun menimbulkan suara bising yang membuat percakapan antara kami berdua sedikit terganggu.
Sedikit kekurangan dari tempat wisata pertama yang kami kunjungi saat itu adalah kurangnya penjagaan dari pihak pengelola. Ketika kami datang, ternyata tidak hanya kami berdua yang berada disana, melainkan sepasang kekasih telah terlebih dahulu berkunjung. Saya sedikit berimajinasi, membayangkan apa yang mereka lakukan disana, di tempat wisata air terjun yang kurang penjagaan.


 
Gambar 1.1 Panorama alam disekitar air terjun.

Berikut ini foto yang pernah saya ikut sertakan lomba photography yang di adakan oleh Yamaha Thamrin Brother yang kebetulan saya tidak mendapat juara. Namun, juara dua lomba ini ternyata juga mengirimkan foto dengan objek yang sama. Ini hasil jepretan saya. Karya saya.


Gambar 1.2 Air terjun Lubuk Linggau.

Tempat kedua yang kami kunjungi pun bertemakan air terjun. Di tempat kedua ini, kurang menarik bagi saya karena ini bukan air terjun yang saya impinkan, yang ingin saya kunjungi. Air terjun ini merupakan bendungan yang kemudian airnya mengalir dari atas kebawah, di mana dibawahnya itu adalah sungai. Namun di sini kami melihat beberapa keunikan, yakni ada seorang bapak yang sedang melatih anaknya terjun dari atas jembatan ke bawah seperti olahraga lompat indah yang sering saya lihat di televisi. Kemudian juga ada beberapa anak kecil laki-laki yang bermain, kejadiannya sama seperti yang pertama tadi, yaitu lompat dari atas ke bawah. Wow! Sungguh mengasyikkan bisa sebebas itu seperti tanpa beban.


#DRS