Kamis, 14 Juni 2012

Prioritas Utama

Aku terlahir di dunia bukan tanpa perantara, bukan karena kutukan, bukan tidak di inginkan. Aku adalah pemenang dari berjuta-juta sperma yang masuk ke dalam rahim seorang janda beranak satu. Setelah aku, kemudian kedua adik laki-lakiku.

Ibu, perantara yang tepat dari sang penguasa langit dan bumi. Aku terlahir bukan karena kutukan yang tiba-tiba mampir ke rahim ibuku, melainkan dari benih cinta seorang bujang kepada janda satu anak. Adanya cinta yang membuat aku ada sekarang dan mudah-mudahan esok pun aku masih ada dan bernyawa. Aku hidup di dunia menginjak usia 20 tahun, itu menunjukkan kalau aku di inginkan di dunia ini.

Kecintaan ibu terhadap anak perempuan satu-satunya ini membuat aku merasa egois. Aku seolah tak ingin di kekang. Aku ingin bebas, sebebas burung merpati yang terbang lepas dari sarangnya. Aku hanya ingin itu. Ibu, beri aku kebebasan. Namun jangan samakan aku seperti binatang yang tak punya hati nurani dan pikiran yang jernih.

Bahkan untuk memberiku keleluasaan memilih jalanku pun kau ragu. Apa salahnya memberikan kepercayaan kepadaku? Kau prioritas utamaku dalam segala hal. Aku selalu berbagi cerita apa yang telah terjadi kemarin, hari ini, dan anganku untuk masa depan.

Jurnalistik menjadi pilihanku di perguruan tinggi, kau sangat menentang keinginanku sebagai seorang jurnalis. Alasannya? Aku wanita! Hanya itu. Wanita sebagai seorang jurnalis? Kenapa tidak? Aku punya hobi yang sangat kau dukung. Ya, photography. Kau tahu senangnya aku memotret dirimu, tapi kau tak memberi ruang untukku menjadi seorang jurnalis.

Cita-cita awalku bukan sebagai jurnalis, melainkan seorang arsitek. Tak pernah ada yang tahu sebelum aku menceritakan ini kepada adik bungsuku. Aku juga mengira-ngira ibu takkan pernah tahu keinginanku menjadi seorang arsitek.

Hubunganku dengan ibu sama halnya seperti hubungan antar teman. Kadang terlihat baik-baik saja, kadang juga terlihat sangat tidak harmonis. Itu semua karena kami adalah wanita dan telah kutulis di atas bahwa wanita memiliki sifat egois. Dari setiap keegoisan, aku selalu belajar bagaimana cara agar bisa mengalah.

Akhir-akhir ini aku banyak bertanya tentang makna kelahiran, perubahan, dan kematian. Aku pun banyak bertanya tentang makna Tuhan, cinta, dan kemerdekaan. Tak mengapa. Menurut penulis novel favoritku, Dee, ia mengungkapkan bahwa hidup adalah proses bertanya. Jawaban hanyalah persinggahan dinamis yang bisa berubah seiring dengan berkembangnya pemahaman kita.


#DRS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar