Rabu, 16 September 2015

Salam..

Hai. Long time no see, ya.. apa kabar? Alhamdulillah, hari ini saya berprestasi. *eh. Hahahaha itu semacam slogan tempatku bekerja sekarang. Eits, kalian belum tahu? Maaf deh, ya. Aku kurang suka sih yang kayak gituan. Kurang suka yang namanya umbar-umbar gitu deh. Contohnya gini, "happy anniversary, darl." Atau gini, "terima kasih buat yang kasih kado, makasih buat doanya.." bla bla bla deh, aku kurang suka hal yang semacam itu. Hal-hal seperti perayaan. Hehe. Cukup tahu aja, ya. Aku sekarang sudah dapat pekerjaan. Yaaa walaupun nggak sesuai jurusan ketika kuliah. Namanya juga cari pengalaman. Oh ya, nggak apa-apa kali yaaaa aku ngucapin kamsahamnida atau gomawopta atau arigato gozaimatsu buat yang sudah doain aku dapet pekerjaan.

Salah seorang kawan dekatku ketika SMP adalah orang yang selalu kasih aku semangat. Namanya Hadi Muhammad. Jangan dibalik, ya. Namanya emang gitu kok hehe. Beliau anak pindahan dari Padang ketika SMP. Entah kenapa aku jadi dekat dengannya. Ada kemungkinan karena tempatnya tinggal waktu itu tak terlalu jauh dengan rumahku. Setiap pergi sekolah, lebih sering kami bertemu di angkot. Malah, sering janjian terlebih dahulu untuk naik angkot jam berapa. Maklum, dulu belum bisa pegang handphone seperti sekarang. Terima kasih untuk semangatnya, kawan.

Selanjutnya nanti akan kuceritakan mengenai orang-orang di wismaku. Aku meeting dulu, ya.

Salam..
#drs

Jumat, 13 Februari 2015

SUNNY Sseo-ni (Korean Movie)

Hai.. lama tidak mengisi blog ini. Apa kabar kalian semua? Semoga baik dan selalu terlimpahkan rezeki dari Allah SWT. aamiin. Nah, untuk sekarang aku mau kasih gambaran sedikit tentang film yang belakangan ini sering aku tonton. Sebelumnya, aku ingin berterima kasih kepada seorang kawan yang sudah mengenalkanku pada film ini. Sudah lama sekali aku tidak menonton atau dapet rekomendasi dari kawan-kawan untuk film Korea. Nah, si dia ini, nama mayanya adalah Lain Jiwa, beliau main ke rumah. Awalnya tidak sengaja karena beliau memang mengajar sebagai honorer di sekolah di mana Ibukku juga mengajar. Singkat cerita, si Lain Jiwa ini adalah juga murid Ibukku ketika ia masih sekolah di sekolah tersebut. Hari itu, Sabtu, bertepatan dengan adikku yang bungsu mau pulang lagi ke Bogor karena masa-masa liburannya sudah mendekati habis. Jadi, Ibukku memutuskan pulang lebih awal. Nah, baru keluar dari gerbang sekolah, Ibukku bertemu dengan Lain Jiwa. Usut punya usut, si Lain Jiwa membonceng Ibukku dari Plaju sampai ke rumahku dengan tidak mengenakan helm. Hahahahahaha. Macho memang si dia ini. Ditawari makan siang sampai main ke dalam kamarku (seperti yang sering kami lakukan) hingga bertukar film.
Beliau meng-copy film yang ada di laptopku, tapi ternyata flashdisk yang ia bawa penuh. Ya terpaksa hapus sana-hapus sini. Sebelum ia menghapus sebuah folder bernama Sunny, ia menawarkanku terlebih dahulu, “galak dak film ini? Korea tapi. Bagus filmnyo.” Lalu, kujawab mau. Film-film Korea seperti yang kita tahu, tidak kalah dari cerita di film-film Hollywood. Konfliknya lebih nyata. Ini menurutku sih ya.. bukan berarti aku memberi medali ‘film Korea adalah yang terbaik’. Akan tetapi, setiap film dari genre dan dari negera manapun, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Setelah bincang-bincang selesai dan Lain Jiwa pun pamit pulang, aku dengan segera menonton film yang katanya ‘bagus’ tadi. Ceritanya berawal dari seorang ibu rumah tangga yang kesehariannya hanya bersih-bersih, membereskan rumah, dll. Pagi itu, si ibu ini berkata kepada anaknya untuk menjenguk neneknya yang sedang dirawat di rumah sakit. Anak gadisnya menghiraukannya. Si suami ketika pamitan berangkat ke kantor hanya menitipkan uang kepada istrinya untuk membelikan ibunya sebuah tas. Setelah bersih-bersih rumah, barulah si ibu rumah tangga ini berkunjung ke rumah sakit dengan membawa tas Channel untuk si ibu mertua. Tak lama kemudian, ibu rumah tangga ini pulang. Ketika melewati sebuah kamar dengan pasien yang meronta-ronta dan beberapa petugas medis berdatangan, ia sedikit penasaran. Si ibu rumah tangga ini mengintip dari luar pintu (karena pintu kamarnya nggak ditutup nih guys). Lalu, melihat name tag yang ada di dinding luar kamar. Rasa tidak percaya. Ibu rumah tangga ini beberapa kali mengedip-ngedipkan matanya. Ha Chun-Hwa. Itu nama yang tertulis di dinding.
Ketika pulang ke rumah, si ibu rumah tangga ini membuka kembali album lama ketika ia masih bersekolah. Singkat cerita, keesokan harinya ia kembali menengok ibu mertuanya di rumah sakit. Setelah selesai menemani makan siang, ia berjalan keluar dan saat melewati kamar yang kemarin ia lewati, ia masuk ke kamar itu (lagi lagi pintu kamarnya nggak ditutup nih). Tidak ada orang. Kemudian ia melihat-lihat foto yang terpajang di dalam kamar. Ketika sedang asyik memperhatikan, tiba-tiba ada suara dari belakang seperti sedang bernyanyi. Si ibu rumah tangga pun kaget dan langsung membalikkan badannya. Ia bergeming. Si pemilik suara tadi melanjutkan apa yang ia ucapkan.
Hei, kalian tahu tidak? Aku mengira bahwa si pemilik suara itu ada pasien sakit jiwa atau semacam penyakit seperti stress atau apalah. Tapi ketika si pemilik suara itu memperlihatkan mukanya di depan kamera, barulah aku tahu oh sepertinya bukan pasien sakit jiwa. Ya mana ada pasien sakit jiwa di rawat di rumah sakit biasa. Bego banget gue ekekekekekekek. Nah, si pemilik suara itu kemudian tersenyum kepada ibu rumah tangga itu dan dibalas senyum olehnya. Lalu, mereka duduk bersama sambil bercerita.
Dan, pemilik suara itu adalah Ha Chun-Hwa. Teman Im Na-Mi (si ibu rumah tangga) semasa sekolah. Teman dekat. Ternyata Ha Chun-Hwa adalah pasien kanker yang umurnya diprediksi tersisa 2 bulan lagi. Berikutnya, film mulai bercerita tentang masa mereka sekolah.
Sumpah, ini film tentang persahabatan yang menurutku ‘wah’ sekali. Ceritanya campur aduk, mulai dari komedi, perselisihan, pertemuan antar kelompok gadis SMU, romantisme, dan beberapa cerita yang menguras air mata. Kalian harus nonton ini. Mereka bertujuh. Sebelum datangnya Im Na-Mi ke sekolah itu, mereka hanya berenam. Setelah anggota kelompok mereka berjumlah 7 gadis, mereka menamainya SUNNY. Penamaan ini langsung diberikan oleh penyiar radio karena salah seorang anggota SUNNY bernama Geum-Ok (anak tunggal seorang Dokter Gigi) mengirim surat ke radio. Waw!!! Disiarkan mungkin hingga ke penjuru Seoul pada masa itu.
Silakan tonton filmnya. Aku nggak sanggup ngetik nih hehehehe. Pokoknya bagus deh. Soundtracknya ‘dahulu’ banget. Pemainnya cantik-cantik. Alurnya loncat-loncat. Awas ketuker peran loh karena di film ini ada mereka ketika masih muda dengan setting cerita 25 tahun yang lalu dan ada penampakan mereka saat ini alias mereka ketika dewasa.
Durasi film SUNNY ini 2 jam. Menurutku sangat kurang. Jika saja aku menonton film ini pas di tahun ketika film ini tayang, aku mungkin akan berpendapat begini, “semoga ada lanjutannya nih film. Seenggaknya, menceritakan full tentang masa-masa ketika mereka SMU dan kenapa mereka berpisah.”

Oke kalau begitu aku pamit ya hehehehe. Ini ada sedikit gambar film SUNNY.


nah ini poster filmnya..


kita kenalan dulu yuk sama mereka..
(Kiri ke kanan)
Park Jin-joo as Hwang Jin-hee
Kang So-ra as Ha Chun-hwa
Min Hyo-rin as Jung Su-ji
Kim Min-young as Kim Jang-mi
Shim Eun-kyung as Im Na-mi
Kim Bo-mi as Ryu Bok-hee
Nam Bo-ra as Seo Geum-ok


kalo ini versi 80an sama emak-emak ^^
aku masih penasaran kenapa Su-Ji di poster sebelah kanan ini ga ada.
hanya terlihat sedikit potongan badannya mengenakan baju berwarna abu-abu.


ini kalau masih bingung, lihat di sini perbedaannya.
posisinya sama kok. Im Na-mi muda di depan, Im Na-Mi emak-emak juga di depan.


Karena pembendaharaan kata-kataku tidak banyak untuk mengulas sinopsis sebuah film, mari silakan langsung ditonton saja hehehehehe.
”If you ignore us because your life is too good, we’ll go and punish you. If You hide because your life sucks, we’ll go and make it better. I don’t know who will die first among us, but until that day, no, even beyond that day…we Sunny, will never break up“ -Ha Chun-Hwa-

Assalamualaikum..


#drs

Rabu, 07 Mei 2014

proposalku


Alhamdulillah selesai seminar. Lega sekali rasanya. seminar sama penguji II, ibu Sumaina Duku, M. Si., tanggal 28 April 2014. Sedangkan sama penguji I, bapak Drs. Aliasan, M. Pd. I dua hari setelahnya dan langsung acc. Alhamdulillah sekali lagi walaupun masih ada revisi. Tidak banyak. Hanya menambahkan satu lagi rumusan masalah dan menghilangkan angket pada bagian metode pengumpulan data.

Sebelum proposal skripsi ini jadi dan diseminarkan, ia (proposal) telah melewati berbagai coretan dari sekretaris jurusan, ibu Suryati. Kenapa? Hm.. ada deh hehe yang pasti si ibu ndak mau ngulang kesalahannya yang kebetulan sudah ditegur oleh ketua jurusan, ibu Nuraida.

Jadi.. semoga dapat terselesaikan dan rampung menggandeng gelar sarjana. Terus, dapet kerjaan dan keluar dari rumah. Kemudian NIKAH!! hehe o:)

#DRS

Rabu, 23 April 2014

Rumah itu......

Pingin tulis sesuatu yang menyangkut KKN. Tapi, kalo inget KKN, ingetnya ke perempuan itu sih. Haduh, sebenernya nggak ada masalah sama tuh perempuan. Serius deh. Aku cuma enek aja. Penjilat kalo aku bisa bilang sih. Sumpah! Aku belum pernah seenek ini sama orang. Dia yang pertama. Pemecah rekorku untuk tidak senang dengan orang. Sampai... untuk menoleh ke arahnya pun aku enggan.

Sudah.. Kita cerita tentang suasana rumah di sana saja, gimana? Oke. Begini, ini sudah pernah kuposting di akun Instagramku. Mungkin ini aku bakal co-pas saja kali, ya..


http://instagram.com/p/mXkhRhBPAH/

Berawal dari tarikan dan hembusan nafas. Kemudian, memulai dari 0. Mengenal orang baru, lingkungan baru, dan keluarga baru. Dua puluh empat jam dalam satu hari, sebuah tatap muka yang melebihi pertemuan antara aku-kita-ibu-bapak sendiri. Melebihi keluarga. Berawal dari tidak kenal satu sama lain, lalu saling rangkul. Berharap jadi saudara. Kita, berdelapan. Menyatukan individu yang berbeda baik dari pemikiran, cara, kelakuan, bahkan hingga latar belakang keluarga dan pendidikan. Rumah ini, kediaman pak Jhoni AL. Bersama dengan istri dan anak pertamanya menyambut kami dengan hangat di hari itu, Selasa, 11 Februari 2014. KKN yang mempertemukan kami dengan keluarga ini. Tuhan, terima kasih. Pun rumah ini menjadi saksi pertengkaran kecil yang terjadi, teriakan-teriakan aneh, juga kentutku yang membabi-buta. Rinduku takkan terbayar tanpa kembali lagi ke rumah ini. Tempat penampung yang tidak seperti tempat penampungan. Dusun II Desa Supat Timur Kec. Babat Supat Kab. Musi Banyuasin Sumatera Selatan, kediaman bapak Jhoni AL, mantan kepala desa.

Aku rasa sih segitu dulu hehe bingung mau cerita apa lagi. Karena terlalu banyak cerita yang terekam dalam memori otakku. Nanti aku cari-cari kalimat bagus untuk menceritakan pengalaman selama KKN. Termasuk juga nanti beberapa pria pribumi yang ada di sana. Tapi nanti, tunggu aku selesai mengobrak-abrik KBBI :)

#DRS

Sabtu, 14 Desember 2013

dua, satu, lalu tiga perempat.

Belajar menurutku baiknya sedikit demi sedikit. Begitu pula ketika aku mengurangi sedikit demi sedikit takaran gula dalam seduhan kopiku. Kamis (12/12) di kantor, kucoba seduh kopi instan. Manisnya keterlaluan.

Aku memang tak berbakat dalam takaran. Tapi, belajar harus tetap berjalan. Untuk kopi kali ini, aku sendiri yang menyeduh. Biasanya, selama ini, aku hanya menenggak apa yang telah orang lain buat. Besoknya, kucoba menakar sendiri kopiku. Dua sendok penuh kopi dan satu sendok gula, dengan air hangat yang tidak sampai memenuhi gelas, hanya 3/4 gelas. awalnya, kopinya belum sampai turun, masih mengambang-ngambang.

Kucoba seujung sendok, mencicipi kopi yang belum lagi turun. Uhuk. Aku terbatuk. Kopi yang belum larut mampir di kerongkongan. Kutunggu sampai semua turun. lalu, kuseruput sedikit demi sedikit. Ternyata pas! Aku hanya perlu menunggu semua kopi larut dan turun sampai berubah menjadi ampas.

Rian, kawanku. Dialah yang menugurku kalau ampas dari kopi seduhanku ini adalah setengah dari air hangat yang kutuang ke gelas kecil itu. Itu yang aku cari. Bagiku, begitulah baiknya menenggak kopi. Kental, ampasnya setengah atau bahkan 3/4 dari air hangat yang dituang.

Entah apakah besok-besok aku masih bisa menyeduh seperti ini atau tidak. Namun yang jelas, keyakinanku harus tetap pada posisi bahwa belajar itu sedikit demi sedikit. Mengurangi takaran gula pada kopi juga harusnya begitu, sedikit demi sedikit. Karena pernah aku membaca kalau kopi itu baiknya dinikmati tanpa mencampurkan gula. Maka dari itu, mencoba untuk sedikit demi sedikit mengurangi takaran gula ada baiknya.

Dan.. Aku lebih menyukai hirupan kopi ketika aku mampir ke angkringan bersama kawan. Dan.. Aku benci kopi hotel!

-drs-